Sports

now browsing by category

 

Perancis Raih Gelar Juara Piala Dunia 2018 Usai Taklukkan Kroasia Final Piala Dunia Paling Seru

Prancis menjuarai Piala Dunia 2018 setelah menang 4-2 atas Kroasia pada laga final Piala Dunia 2018, Minggu (15/7/2018) di Luzhniki Stadium, Moskow. Kedua tim menurunkan pasukan terbaiknya pada pertandingan ini. Prancis masih mengandalkan formasi 4-2-3-1 dengan Hugo Lloris, Raphael Varane, Paul Pogba, Antoine Griezmann, dan Olivier Giroud.

Sedangkan Kroasia juga masih mengedepankan sistem yang sama seperti Prancis. Pelatih Dalic masih menurunkan Danijel Subasic, Dejan Lovren, Luca Modric, Ivan Perisic, dan Mario Mandzukic sebagai poros andalannya. Kroasia langsung mengambil inisiatif serangan pada menit-menit awal. Pergerakan pemain lini depan tim Zlatko Dalic ini memaksa gelandang Prancis seperti Paul Pogba turun membantu pertahanan.

Peluang terbaik Kroasia datang pada menit ke-14 setelah Ivan Perisic melakukan solo run ke kotak penalti Les Bleus. Apes bagi Kroasia, Samuel Umtiti masih bisa menyapu bola operannya sebelum menemukan Mario Mandzukic.

Justru Prancis-lah yang unggul lebih dulu pada menit ke-18. Tendangan bebas Antoine Griezmann mengenai kepala Mario Mandzukic dan meluncur masuk ke gawang Daniel Subasic.

Tertinggal satu gol tidak membuat mental Kroasia jatuh Mereka menyamakan kedudukan pada menit ke-28 lewat tendangan Ivan Perisic dari dalam kotak penalti setelah menerima umpan Domagoj Vida. Namun, Perisic justru membuat kesalahan pada menit ke-35. Rekaman VAR menunjukkan dia melakukan handball di kotak penalti. Antoine Griezmann sukses mengeksekusi penalti menaklukkan Danijel Subasic.

Memasuki babak kedua, Kylian Mbappe nyaris menambah keunggulan Prancis. Beruntung bagi Kroasia, Subasic masih bisa mengamankan tembakan pemain Paris Saint-Germain tersebut. Paul Pogba yang mengubah skor menjadi 3-1. Tembakannya yang mengenai pemain Kroasia memantul kembali ke kakinya.

Pemain Manchester United tersebut tidak menyia-nyiakan kesempatan kedua dan melepas tembakan tanpa bisa dicegah barisan pertahanan Kroasia. Prancis semakin bersemangat. Kylian Mbappe membuat skor berubah menjadi 4-1 pada menit ke-65 via tendangan dari luar kotak penalti menyambut umpan Lucas Hernandez.

 

Demi Kemaslahatan Bersama, Messi Sebaiknya Pensiun dari Timnas

Demi Kemaslahatan Bersama, Messi Sebaiknya Pensiun dari Timnas, Kekalahan Argentina 0-3 dari Kroasia dalam lanjutan Grup D Piala Dunia 2018 tadi malam memang terasa lebih menyesakkan bagi Maradona. Bukan hanya karena skor telak yang diderita Albiceleste, namun juga kekalahan tersebut bertepatan dengan hari bersejarah saat “gol tangan tuhan” muncul pada Piala Dunia 1986.

Sebelum laga dimulai, Maradona tampak penuh semangat. Ia berjingkrak-jingkrak dan berteriak ke tribun bawah sambil memutar-mutar jersey kedua Argentina bernomor 10. Ia juga memamerkan sebuah kaos bertuliskan “te quiero pero soy un bardo” yang jika diterjemahkan secara bebas kurang lebih berarti: “Saya mencintaimu, tapi saya adalah seorang pesakitan”.

Wajah Maradona sudah mulai tercengang usai Caballero membuka kran gol Kroasia melalui blunder fatal di menit 53. Ia makin frustrasi setelah Luka Modric menambah luka bagi Albiceleste. Dan puncak kegetiran Maradona tak dapat ditahan lagi kala Kroasia menambah gol mereka dengan cara yang tampak seperti dalam suasana latihan: tik-tak antara Mateo Kovavic dan Rakitic di muka gawang Argentina yang hanya menyisakan seorang Federico Fazio.

Sebelum laga, pelatih Kroasia Zlatko Dalic sempat mengatakan: “Saya tidak bilang Argentina adalah lawan termudah. Saya bilang inilah laga yang paling mudah bagi kami. Kami tak memiliki beban. Kami bermain melawan salah satu tim yang terbaik.”

Dalic mungkin hanya sedang melakukan perang pikiran. Dengan telah mengantongi satu kemenangan usai laga perdana melawan Nigeria, Kroasia cukup mengejar hasil imbang lawan Argentina, dengan asumsi mereka akan meraih kemenangan atas Islandia di laga terakhir. Terlepas apa alasan Dalic, skor telak di laga tersebut memang membenarkan ucapannya: Argentina adalah lawan yang mudah dikalahkan.

Perancis tidak menemukan Argentina yang mudah-mudah amat untuk dikalahkan. Setidaknya Perancis kebobolan tiga gol. Namun 4 gol yang dicetak Perancis membuktikan: jika pun Argentina bukan tim yang mudah, namun pertahanan mereka memang enteng betul untuk dibobol.

Lionel Messi tentu saja menjadi sorotan, bahkan lebih disorot ketimbang Jorge Sampaoli. Apa boleh bikin, dalam perkara satu ini, La Pulga memang tak punya pilihan: kegagalan Argentina, tidak bisa tidak, akan menjadi terutama kegagalan dirinya.

Messi Seharusnya Jadi Pemain Timnas Spanyol

Ada kutipan menggelora di kalangan pemberontak saat Revolusi Prancis: Ils doivent envisager qu’une grande responsabilité est la suite inséparable d’un grand pouvoir. Dalam Bahasa Inggris, kutipan tersebut kurang lebih berarti: They must consider that great responsibility follows inseparably from great power.

Berpuluh tahun ke depan, beberapa tokoh seperti Winston Churchill dan Theodore Roosevelt, juga menggunakan kutipan tersebut dalam beberapa pidato mereka. Dan makin populer sejak Uncle Ben, paman Peter Parker, turut mengutipnya secara sepenggal dalam komik Spiderman edisi Amazing Fantasy #15 yang terbit pada 1962: With great power comes great responsibility.

Akhir-akhir ini, tiada orang yang lebih tepat selain Messi untuk disandingkan dengan kutipan tersebut. Sebagai salah satu pemain terbaik dunia sepanjang sejarah, Messi memikul beban berat untuk membawa Argentina meraih berbagai trofi bergengsi. Dialah sang penerus Maradona, bahkan dengan catatan statistik yang jauh lebih berkilau dari seniornya tersebut.

Apa daya, jangankan meraih trofi bergengsi, untuk lolos dari fase grup di Piala Dunia 2018 ini saja Argentina harus menggantungkan nasibnya kepada negara lain. Semua makin terasa pahit jika melihat kemungkinan bahwa inilah turnamen terakhir bagi Messi untuk membuktikan bahwa dirinya memang layak diandalkan setelah kalah dalam empat final (Piala Dunia 2014, Copa America 2007, 2015, 2016).

Tentu tidak untuk membebankan semua kepada Messi. Terlebih ketika skuat Argentina juga turut diisi beberapa pemain bagus seperti Sergio Aguero, Gonzalo Higuain, Paulo Dybala, Otamendi hingga Angel Di Maria (nama-nama yang menjadi juara di liga-liga terbaik Eropa: Inggris, Italia, dan Perancis). Namun, sebagaimana kutipan di atas, siapa yang memiliki kekuatan terbesarlah yang wajib memikul tanggung jawab tertinggi. Dalam hal ini, tidak bisa tidak, Messi pula orangnya.

Messi telah belajar memikul beban berat sejak ia masih kanak. Kala itu, pada usia 8 tahun, ia didakwa menderita Growth Hormone Deficiency (GHD), sebuah penyakit yang menyebabkan pertumbuhan tubuh terhambat. Selama bertahun-tahun ia harus diinjeksi dengan suntikan hormon demi dapat bertahan hidup. Ekonomi keluarganya pun berantakan karena biaya medis perawatan Messi kelewat mahal.

Namun, dengan bakat jenius dalam mengolah si kulit bulat yang dimilikinya, Messi mulai mendapat secercah asa untuk mengobati penyakitnya tersebut. Hal ini terjadi pada awal tahun 2000-an, sejak ayah Messi, Jorge, kedatangan dua agen sepakbola: Martin Montero dan Fabian Soldini. Mereka mengaku kepincut dengan Messi setelah menyaksikan aksi La Pulga tampil di turnamen junior bersama Newell’s Old Boys. Kepada Jorge, kedua agen tersebut menawarkan rencana prestisius: akan mengorbitkan anaknya.

Montero dan Soldini lalu menceritakan soal Messi kepada kenalan mereka bernama Horacio Gaggioli, seorang pebisnis properti di Barcelona. Dari Gaggioli, cerita tersebut disampaikan kepada rekannya yang lain, Josep Maria Minguella, pebisnis yang juga salah satu pemilik saham di Barcelona dan kenal dekat dengan Direktur Teknis Barcelona saat itu, Carles Rexach. Messi pun diberi kesempatan untuk uji coba di Barcelona.

Pada Minggu, 17 September 2000, bersama ayahnya dan Soldini, Messi kemudian berangkat dari rumahnya di Rosario, Argentina, terbang melintasi Atlantik menuju Barcelona sejauh 10.460 km. Usianya masih 13 tahun kala itu. Setibanya di bandara El Prat, mereka sudah ditunggu Gaggioli. Dari sana, rombongan diantar ke Hotel Plaza yang terletak di kaki bukit Montjuic di Catalonia untuk beristirahat.

Keesokan harinya, Messi sudah diajak latihan bersama tim muda Barcelona yang di antaranya ada Cesc Fabregas dan Gerard Pique. Seketika, mereka pun dibuat termenung dengan kehadiran bocah yang memiliki tinggi tak sampai lima kaki atau hanya sekitar 150cm itu. Di lapangan, Messi begitu trengginas dengan kemampuan olah bola yang seolah hadir dari semesta yang lain. Di ruang ganti, ia amat pendiam layaknya bocah aneh yang memiliki kehidupannya sendiri. El Mudo, demikian julukan Messi dulu, Si Pendiam.

Awal Oktober 2000, Rexarch bersama beberapa staf lain hadir dalam sesi latihan tim muda Barcelona untuk melihat langsung Messi bermain. Dan tak sampai dua menit, ya, dua menit, ia segera memutuskan: Blaugrana harus meminang Messi.

“Setelah dua menit, saya sudah tahu jawabannya. Semua orang juga akan berpikiran yang sama. Kami harus meminang bocah ini sekarang juga,” ujar Charly, panggilan Rexarch, kala itu.

Hanya saja, situasi Barca yang kala itu cukup rumit membuat persoalan tidak semudah yang dibayangkan. Joan Gaspart baru terpilih sebagai presiden, Luis Figo juga sudah hijrah ke Real Madrid, sementara Barca juga tidak memiliki kebijakan mengambil pemain dari luar Catalonia atau luar Eropa jika ia tidak benar-benar bagus.

Namun, Rexarch tetap bersikeras. Ia meyakinkan para petinggi klub untuk mengikat Messi, membantu biaya perawatannya sebesar 1000 euro per bulan hingga benar-benar sembuh, termasuk membayar biaya transfer kepada ayahnya sejumlah 40 ribu euro. Hingga akhirnya Messi pun resmi dipinang Barcelona dan menetap di sana sejak saat itu.

Di usia yang masih kanak, dengan kondisi tubuh yang begitu ringkih, Messi mesti berpisah dari keluarganya di Rosario, meninggalkan teman-teman yang biasa bermain bola bersamanya di jalan bernama Israel Street, serta tidak lagi dapat melihat Antonella Roccuzzo: cinta pertama Messi yang kelak menjadi ibu dari anak-anaknya.

Terlepas dari beratnya beban hidup yang ditanggung Messi, ia selalu mendapatkan kasih sayang yang tak pernah putus dari berbagai orang di sekelilingnya. Pelatih pertamanya di tim senior, Frank Rijkaard, memagari Messi agar terhindar dari godaan Fabio Capello untuk membawanya ke Juventus.

Ronaldinho, bintang Blaugrana saat itu, memosisikan diri sebagai mentor sekaligus kakak yang siap melindungi Messi kapanpun. Ketika tongkat pelatih dipegang Pep Guardiola, proteksi terhadap Messi jadi kian berlapis-lapis: taktik dibangun untuknya, termasuk dengan membuang pemain-pemain bintang kelas wahid demi Messi seorang.

Pada akhirnya, semua tahu pilihan Rexarch tidak salah. Messi telah memberikan segalanya kepada Barcelona: berpuluh gelar, beratus gol, berbagai macam rekor. Jika semua itu adalah “utang”, Messi bukan saja telah melunasinya, ia bahkan menggandakannya berkali-kali lipat.

Sedemikian intimnya relasi Messi dengan Barca, maka tak heran jika banyak yang beranggap sebaiknya Messi bermain untuk timnas Spanyol saja. Seperti yang sempat diutarakan Fabregas suatu waktu: “Akan sangat fenomenal jika Leo bermain untuk Spanyol.”

Kata Mantan Pemain Persipura Jayapura Israel Wamiau Seleksi di Arema FC

Arema FC kembali kedatangan pemain baru. Mas tersebut adalah Israel Wamiau. Sebelumnya berusia 23 tahun itu sempat membela Persipura Jayapura.

Tetapi kini, ia mencoba peruntungan di Arema FC. Memang statusnya saat ini masih trial. Hari Senin (12/3/2018) pagi pemain asal Papua itu sudah bergabung latihan. Ia berharap bisa bergabung secara resmi dengan klub berlogo Singa mengepal itu.

“Saya senang bisa gabung dengan Arema FC meskipun masih seleksi. Manajemen yang meminta saya untuk gabung,” bebernya, Senin (12/3/2018).

Israel berharap dirinya bisa mendapat kesempatan menjadi pemain resmi Arema FC. Untuk itu, dirinya siap menunjukkan kemampuan terbaiknya agar bisa lolos seleksi.

Apalagi dirinya mengikuti seleksi karena rekomendasi manajemen. Di sisi lain, pemain yang berposisi sebagai stoper itu mengakui sebelumnya tak banyak tahu Arema FC.

Ia menyebut banyak mendapat masukan dari mantan pemain Arema FC, Marko Kabiay. Oleh karena itu, dia membulatkan tekad untuk bisa mendapat kontrak resmi di Arema FC.

“Dia (Marko Kabiay) banyak memberi saya saran. Dia bilang Arema FC tim yang bagus dan bisa membuat pemain berkembang,” tutupnya.

 

 

Penyesalan Conte Lepas John Terry Terkuak Penurunan Performa Chelsea

Club sebesar Chelsea harus menjalani laga kurang menyenangkan di kompetisi Liga Inggris musim ini. Mengapa hal ini terjadi? Pelatih Chelsea, Antonio Conte mulai mengungkapkan kondisi clubnya, sampai terkuak kata-kata penyesalan usai melepas kapten tim The Blues musim lalu, John Terry.

Menurut pelatih Chelsea, Antonio Conte, kehadiran dan profesionalisme John Terry punya dampak cukup besar saat The Blues meraih gelar Liga Inggris musim lalu.

Conte

Meskipun sebenarnya pemain asal Inggris hanya bermain di sembilan laga di Liga Inggris pada musim lalu.

Kini tanpa John Terry yang memutuskan pindah ke Aston Villa, Chelsea mengalami penurunan performa sehingga harus rela terdampar di peringkat kelima klasemen Liga Inggris.

“Musim lalu dia luar biasa, meski tidak banyak bermain tapi komitmennya luar biasa,” ujar Conte dilansir BolaSport  dari Express.

“Dia banyak membantu saya di ruang ganti dan menggunakan kata-kata yang tepat pada saat yang tepat. Yang pasti dengan Terry, kita berbicara tentang pemain dengan pengalaman hebat,” ucap Conte lagi.

Namun apa daya, Conte tak kuasa menahan kepergian Terry ke Aston Villa awal musim ini.

“Pasti bagi kami itu adalah kerugian besar. Saya mencoba mempertahankannya untuk musim ini tapi dia ingin bermain lebih banyak,” tutur dia.

Mantan pelatih Juventus ini juga siap menerima kembali John Terry jika pemain 37 tahun ini ingin kembali ke Chelsea.

“Saya pikir untuk John Terry, Chelsea adalah rumahnya dan dia bisa datang kapan pun dia mau,” ujar menambahkan.

“Pintu selalu terbuka baginya dan para pemain yang menulis sejarah klub ini. Selalu senang bertemu dengannya dan mengobrol. Baik juga bagi para pemain kami untuk melihat kapten lama mereka,” kata dia.

Bintang Muda PSV Mimpikan Bergabung dengan Real Madrid

Gelandang muda klub Belanda, PSV Eindhoven, Mauro Junior ternyata bermimpi untuk memperkuat Real Madrid. Pemain berusia 18 tahun ini pun bertekad untuk memenuhi impiannya tersebut.

“Saya bermimpi bermain bagi Barcelona, Real Madrid, Mancheser City, Manhester United. Saya tak punya prioritas, mereka semua klub besar. Saya akan bekerja keras demi mimpi saya,” ujar Mauro seperti dilansir Tribal Football.

Madrid

Mauro mulai mencuri perhatian setelah berhasil masuk ke tim utama PSV pada musim ini. Total, pemain asal Brasil ini telah mencatatkan 12 penampilan buat PSV. Madrid Sadar pemainnya punya prospek cerah, PSV pun telah mengganjar kontrak jangka panjang untuk Mauro. Menurut situs transfermarkt, PSV telah memperpanjang kontrak Junior hingga Juni 2022.

“PSV adalah klub besar. Namun saya ingin meningkat dan terus bermain seperti sekarang,” kata Junior. Madrid

Mauro Emanuel Icardi Rivero (lahir di Rosario, Argentina, 19 Februari 1993; umur 25 tahun) adalah seorang pemain sepak bola berkewarganegaraan Argentina yang bermain untuk klub Internazionale biasa bermain pada posisi penyerang .

Icardi memulai karier juniornya di klub Vecindario dan Barcelona kemudian memulai karier seniornya di klub Sampdoria.

Icardi lahir di Rosario, Argentina dan pada usia 6 tahun, pindah ke Pulau Canary, Spanyol. Ia memulai karier sepakbola Juniornya di Vecindario, di Gran Canaria, dan berhasil mencetak lebih dari 500 gol sepanjang karirnya.

Tahun 2007 dia mendapat tawaran bermain dari berbagai klub profesional di Spanyol, diantaranya FC. Barcelona, Real Madrid, Valencia, Sevilla, Espanyol, Deportivo La Coruna, dan klub dari inggris, Liverpool. Barcelona menjadi pilihannya dimana dia menandatangani kontrak hingga 2013.

Icardi bergabung dengan Tim U-17 Barcelona di musim 2008-09. Setahun berikutnya dia dipromosikan ke Tim U-19 sebelum akhirnya pindah ke Sampdoria musim 2011a dengan status pinjaman.

Ikuti Jejak Ronaldo

Mauro Junior mungkin saat ini belum bisa memenuhi impiannya bergabung dengan Real Madrid. Namun tampaknya, ia tak perlu berkecil hati.

Pasalnya, ada satu mantan pemain PSV yang juga berhasil berkostum Real Madrid. Ya, dia tak lain adalah Sang Fenomena, Ronaldo Luis Nazario de Lima. Ia membela Real Madrid dari musim 2002 hingga 2007.

Pemain Jalanan

Karier Mauro Junior tak melesat dalam semalam. Layaknya pemain Brasil lainnya, ia mengaku terbiasa bermain di jalanan saat belum menjadi pemain profesional.

“Saya selalu bermain di Jalanan. Saya pikir banyak pemain Brasil punya teknik bagus karena hal tersebut,” ujar Junior.

Kendati berasal dari jalanan, Junior memendam mimpi besar bersama timnas Brasil. “Saya ingin meningkat perlahan. Namun dalam waktu 10 tahun, saya ingin menjadi juara dunia dengan tim nasional Brasil,” kata Junior menegaskan.

Ternyata Neymar biang kerok meroketnya harga transfer

neymar

Perilaku sepanjang kepindahannya dari Barcelona ke PSG Paris dengan biaya transfer €220 juta merupakan musabab melambungnya harga transfer pemain sepak bola, kata wakil presiden Barcelona.

Jordi Mestre mengatakan pemain depan Brasil berusia 25 tahun itu bermain ‘kucing-kucingan’ dengan Barcelona sebelum dia keluar bulan Agustus lalu.

PSG membayar €220 juta (Rp3,6 triliun) untuk Neymar, yang membuat ujung tombak asal Brasil itu menjadi pemain termahal sepanjang sejarah.

Neymar

“Kami seharusnya bisa menghemat banyak uang dan kegaduhan media,” kata Mestre. “Yang paling menyakitkan adalah bagaimana semua itu terjadi.”

Neymar menandatangani kontrak baru untuk lima tahun di Barcelona pada Juli 2016, termasuk bonus pembaruan kontrak 8,5 juta euro (sekitar Rp150 miliar).

Mestre berkata: “Andai saja dia datang kepada kami dan berkata, ‘Saya ingin pergi’, akan dicapai suatu kesepakatan.”

Jika lebih jelas tentang niatnya, kata Mestre, harga transfer pemain bola tak akan melonjak gila-gilaan begitu.

“Kalau saja di memberi tahu kami ingin pindah, PSG akan bisa membelinya dengan harga lebih murah, dan kami juga akan bisa membeli pemain lain dengan harga lebih murah pula.”

Pada saat pindah, Neymar mengatakan bahwa dia “mengikuti hatinya”.

“Keputusan ini sangat sulit diambil,” katanya. “Saya bukan melakukannya demi uang. Saya melakukannya untuk motivasi dan tantangan baru.”

Sejak ditinggal Neymar, Barcelona menghabiskan £142 juta untuk mendatangkan Philippe Coutinho dari Liverpool, dan sebelumnya mendatangkan Ousmane Dembele dari Borussia Dortmund dengan biaya awal transfer £97 juta, yang bisa naik menjadi £ 136 juta jika Dembele terlibat dalam berbagai sukses Barcelona meraih gelar.

Nadal Enggan Pikirkan Rekor Grand Slam Federer

Nadal Enggan Pikirkan Rekor Grand Slam Federer, Sukses Roger Federer menjuarai Australia Terbuka 2018 membuka jarak dengan Rafael Nadal. Namun, Nadal menolak membandingkan kariernya dengan sang maestro.

Federer mempertajam rekornya sebagai petenis putra dengan rekor Grand Slam terbanyak setelah meraih gelar ke-20 di Melbourne Park, beberapa pekan lalu. Sementara itu, Nadal hanya sampai perempatfinal usai mundur karena cedera saat bertanding melawan Marin Cilic.

Dengan demikian, pekerjaan Nadal semakin berat untuk bisa mengejar rekor Federer. Saat ini petenis kidal Spanyol itu mengoleksi 16 grand slam yang diperoleh di Prancis Terbuka (10), Australia Terbuka (1), Wimbledon (2), dan AS Terbuka (3).

Performa gemilang Federer dan kondisi fisik Nadal yang cukup rentan cedera membuat petenis 31 tahun itu bisa menyamai sang rival. Namun demikian, Nadal menegaskan bahwa mengejar Federer bukan fokusnya.

“Itu bukan sesuatu yang membuatku khawatir dan aku juga tidak memikirkannya. Aku maju terus tanpa melihat apa yang terjadi di sekitarku dan itu bukan sesuatu yang terus dibawa untuk tenis dan hidup,” ujar petenis nomor satu dunia ini kepada Ultima Hora. “Akan membuat frustrasi kalau terus membandingkan diri Anda (dengan orang lain).”

“Anda harus terus puas dengan apa yang sudah Anda lakukan dan aku puas dengan apa yang sudah kucapai, bersyukur atas apa yang kehidupan beri dan gembira untuk hal-hal baik yang terjadi pada orang lain,” sambung Nadal.

Cedera Nadal yang didapatnya di Australia tidak parah. Sang petenis akan melanjutkan musim ini dengan tampil di Meksiko Terbuka akhir bulan ini, yang turut diramaikan petenis-petenis top macam Cilic, Alex Zverev, Dominic Thiem, dan Juan Martin del Potro.

Detik-detik Kevin Sanjaya/Marcus Gideon Juara BWF Super Series Finals

Pasangan ganda putra Indonesia, Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon, sukses menjuarai BWF World Superseries Finals 2017 di Dubai, Minggu (17/12/2017).

Marcus/Kevin mengalahkan juara dunia 2017 asal China, Liu/Zhang.

Pertandingan berakhir dengan skor 21-16, 21-15 dalam waktu 39 menit.

Ini merupakan gelar juara ketujuh buat The Minions di musim 2017.

Tonton detik-detik kemenangan The Minions dalam video di atas.


kejuaraan mengalahkan China

tepuk tangan untuk negara kita

Posted by Kumpulan Video News on Sunday, 17 December 2017

Yamaha Tech 3 Pasrah Kehilangan Johann Zarco

Yamaha Tech 3 Pasrah Kehilangan Johann Zarco, Bos Yamaha Tech 3, Herve Poncharal, mengaku sudah siap kehilangan Johann Zarco. Johann Zarco yang melakukan debut di kelas MotoGP pada tahun 2017, mampu tampil impresif sepanjang musim ini.

Dua kali juara dunia Moto2 itu berhasil tiga kali naik podium pada MotoGP 2017, yakni saat GP Prancis, Malaysia, dan Valencia.

Sehingga tidak mengherankan jika tim lain memiliki ketertarikan untuk mendatangkan Johann Zarco.

“Saya sudah siap untuk membiarkan dia pergi dan saya bangga bahwa dia telah membuat debut di kelas MotoGP bersama kami,” kata Herve Poncharal, Sabtu (16/12/2017).

Tim KTM menjadi salah satu tim pabrikan yang sangat berhasrat untuk mendatangkan Johann Zarco.

Selain itu, tim Yamaha Factory juga mempertimbangkan Johann Zarco untuk menggantikan Valentino Rossi.

“Sebagai tim satelit, pilihan gaji kami dan dukungan teknik yang kami berikan sangat terbatas. Beberapa tahun yang lalu saya memiliki kesempatan untuk menjaganya, lalu Yamaha dan Honda datang.”

“Tapi sekarang kami punya banyak pabrikan yang menawarkan alternatif pebalap yang lebih baik. Oleh karena itu, saya tidak percaya bahwa dia akan bersama kami di tahun 2019.”

Mayoritas pebalap MotoGP memiliki kontrak yang akan berakhir pada akhir tahun 2018.

Sehingga pada tahun 2019 diprediksi akan terjadi eksodus besar-besaran para pebalap MotoGP pada semua tim.

Uji Coba Cabang Olahraga Berkuda Digelar di Dua Tempat

Uji coba yang digelar sejak Jumat (13/10/2017) hingga Minggu (15/10/2017) ini bertujuan untuk mengetahui kesiapan kedua venue dalam menggelar pertandingan Asian Games 2018.

Nantinya, Arthayasa Stables akan menjadi arena bagi lima cabang olahraga berbeda yakni anggar, renang, equestrian (show jumping), menembak, dan lari.

Sementara itu, JIEPP akan menjadi lokasi tiga nomor cabang olahraga equestrian yaitu dressage, eventing, dan jumping.

“Test event yang kian marak digelar menunjukkan kesiapan bidang pertandingan,” ujar Ketua INASGOC Erick Thohir, pada Jumat (13/10/2017).

Uji coba equestrian akan diadakan dalam tiga seri. Setelah seri pertama ini, seri kedua bakal diselenggarkan pada 3-4 November, dan seri ketiga 1-3 Desember.

“Ajang uji coba kali ini hanya diikuti peserta lokal dari berbagai klub berkuda di Indonesia. Tes ini belum melibatkan peserta dari luar negeri karena proses karantina kuda yang tidak memungkinkan dan anggaran tidak mencukupi,” kata Jupri Mardi selaku Manajer Kompetisi.

“Dalam equestrian sendiri, tidak hanya dipersiapkan atletnya, tetapi juga kuda. Jadi, semua faktor tersebut harus diperhatikan,” kata Jupri menambahkan.

Ada tiga nomor yang diuji coba dalam test event kali ini. Arthayasa Stables akan menggelar nomor dressage dan show jumping.

Adapun satu nomor sisanya yakni cross country akan dipertandingkan di JIEPP.

^