Jenny Effendy Sebut Sukses itu Harus Penuh Kesabaran dan Perjuangan

Setiap saat, sebagian besar kegiatan kita berhubungan dengan smartphone. Baik sebagai alarm ketika bangun, berkomunikasi, sumber-sumber berita atau informasi, sumber referensi, dan lain-lain.

Jenny Effendy Sebut Sukses itu Harus Penuh Kesabaran dan Perjuangan Tidak diragukan lagi, smartphone sangat menarik pasar. Berbagai perusahaan begitu agresif bergerak, melepaskan dan mempromosikan produk-produk terbaik mereka.

Lima tahun lalu, saat pertama kali memasuki pasaran smartphone, Oppo bisa dibilang bukan siapa-siapa. Gaung namanya pun relatif tidak terdengar. Tapi kini pabrikan asal China itu telah menjadi salah satu pabrikan smartphone terbesar dunia.

“Tahun 2013 itu kita mulai bisnis Oppo ini, langsung kerjasama dengan orang China. Pada saat itu memang kita mau mencari bisnis baru, tapi enggak tahu mau cari bisnis apa. Ketemu teman dan dia beri rekomendasi, coba pegang merek Oppo,” ujar Entrepreneur of Agen Oppo Medan, Jenny Effendy, beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan saat itu merek Oppo, orang terbayang ora oppo oppo, enggak tahu apa-apa, enggak terkenal padahal di China sudah terkenal. Jenny pun mulai ragu, belum lagi banyak gejolak dari berbagai pihak. Namun ia bersama suaminya tetap optimis dan berjuang dalam merintis usahanya.

“Merek Oppo ini kita bawa ke Indonesia, dimana merek buatan China dulunya kurang bagus. Saat itu market benar-benar susah disentuh, walaupun kita sudah pasang iklan di TV, buat pameran di berbagai mal, tetap masih kurang peminatnya. Selama setahun itu kita merasa benar-benar susah banget, sempat down tapi kita enggak mau mundur. Kita terus optimis dan berjuang,” ungkap Jenny.

Ia menjelaskan pihaknya memakai sistem Oppo, agar memakmurkan terlebih dahulu orang toko ataupun deller. Profit margin cukup tinggi sehingga para deller mau jual otomatis mau memiliki persedian/stock handphone ini.

“Bisnis ini bisa terbangun berkat dari semua pihak, jadi bukan dari saya sendiri. Ada suami saya juga yang mendukung dalam hal ekternal perusahaan ini, begitu juga karyawan saya yang selalu membantu. Di Oppo dalam dua tahun kita bisa fight dan sudah diakui, Oppo masuk dalam lima besar merek handphone terkenal di Indonesia,” ucapnya.

Lebih lanjut ia berkata “Tanpa karyawan saya bukan apa-apa, saya selalu menganggap mereka itu sebagai patner bisnis. Patner bisnis kalau mau jalan bersama itu harus sinkron, satu jalan, satu visi. Kita jadikan mereka sebagai teman. Menurut saya SDM (Sumber Daya Manusia) human ini yang paling penting, karena orang punya ide yang cukup besar,” ujar
Lulusan Inti College Malaysia ini.

Tak hanya bisnis Agen Oppo, Jenny juga memegang Agen J&T Express yang kini sudah memiliki 50 cabang. Ia mengaku bisnis agen Oppo dan agen J&T Express sistem kerjanya berbeda.

“Intinya kalau mau sukses itu sebenarnya ada yang namanya jodoh. Pada saat kita diberi kesempatan, kita harus ambil dulu. Kalau berbisnis bukan berarti harus dari nol. Kita sendiri menjadi agen pun kita bisa sukses dengan penuh kesabaran dan perjuangan. Kita harus menunjukkan kita punya kepercayaan untuk itu semua,” ucap Perempuan kelahiran Medan, 5 oktober 1980 ini.

Menurut Jenny, sukses itu berarti ia mampu membeli apa yang ia inginkan. “Bukan berarti mau beli pulau ya, tapi saya mau beli apa yang saya inginkan, saya sudah bisa. Tapi kalau sukses dalam hal bisnis ketika bisnis sudah meroket ke pasaran. Ya namanya suatu produk pasti ada waktunya naik turun, jadi yang penting sukses itu datang dari dalam hati kita, apa,”ungkapnya.

Jenny mengaku ia juga merasa sukses ketika bisa membantu orang yang tidak mampu. “Kita harus kerja dengan niat dan hati yang baik. Kalau memaksakan sesuatu itu enggak akan nyaman. Bagi saya, semua orang itu bisa sukses, katakan ya, jangan bilang enggak bisa, semua bisa dilakukan,” tutupnya.

Manajemen Waktu Dari Diri Sendiri

Banyak kaum hawa yang kini memilih jadi wanita karir. Tidak sedikit yang memadukannya dengan menjadi ibu rumah tangga. Bagaimana menyeimbangkannya?

Entrepreneur of Agen Oppo Medan, Jenny Effendy, mengatakan aktifitas dirinya saat ini menjadi bussinesswoman 50 persen dan menjadi ibu rumah tangga 50 persen.

“Dulu bagi saya bisnis itu 70 persen tapi sekarang setelah menikah dan punya anak saya, jadi 50 persen saja. Kita sebagai bussinesswoman juga harus punya komitmen, saya menikah, punya anak dan berbisnis harus seimbang. Manajemen waktu harus ada tentunya bersama dengan sistem dalam setiap aktifitas ini,” ujarnya.

Ia menambahkan pagi hari ia bisa juga memasak makanan untuk keluarga, lalu pergi ke kantor. Jenny menyadari kebersamaan bersama keluarga merupakan salah satu prioritas dalam menjalani hidup ini.

“Saya merasa sukses itu ketika saya mampu memanajemen semuanya. Pagi saya bisa memasak, setelah itu ke kantor. Memang kita enggak bisa sepenuhnya 100 persen, ya 50 persen saja dalam hal menjaga anak itu sudah bagus,” ucapnya.

 

Jenny menambahkan setiap wanita yang sedang bekerja sekaligus sudah menikah dan memiliki keluarga, harus memiliki waktu untuk keluarga. “Jangan sampai kebersamaan dengan anak jadi terbengkalai, kita bersama anak itu cuma 20 tahun, sisanya anak nanti sudah menikah. Tetap atur waktu kerja dan keluarga,” tuturnya.

Dalam perbincangan dengan Tribun Medan, Jenny mengaku saat masih kecil ia sudah dididik orangtua dalam hal bisnis. Ia sudah jaga toko milik kedua orangtuanya, hal itu juga yang hingga kini menjadikan sang ibu yang juga masih berkarir.

“Saat saya kecil, saya sudah didik oleh orangtua, saya sudah jaga toko. Orangtua saya dari dunia bisnis juga, sampai sekarang pun Mama saya masih berkarir. Memang saya ingin seperti itu juga, enggak ada yang namanya pensiun,”ucap Jenny.

Ia mengatakan setiap perempuan pasti mampu menjalani rutinitasnya masing-masing. Secara teori, tidak ada yang benar-benar mampu mengajarkan tentang mengatur waktu, namun secara praktiknya, diri sendirilah yang dapat mengatur waktu tersebut.

“Jangan pernah mengabaikan keluarga, minta support dari mereka. Kita sudah menikah, sudah punya keluarga, beri pengertian kepada sekeliling kita. Sediakan waktu bersama keluarga dan pekerjaan kita masing-masing, semua waktu yang kita miliki, kita yang mengaturnya,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

^